Cuaca Tak Menentu, Produsen Ikan Asin di Bekasi Kian Lesu

Cuaca Tak Menentu, Produsen Ikan Asin di Bekasi Kian Lesu

Dec 28, 2016

 

Bekasi, Bekasiurbancity.com – Di Bekasi khususnya wilayah pesisir, industri rumahan ikan asin masih banyak jumlahnya, terlebih lagi industri rumahan dengan metode tradisional sangat mengandalkan teriknya matahari untuk proses pengeringan ikan. Apa jadinya, bila cuaca mendung bahkan hujan terus melanda permukiman warga. Pendapatan para pelaku industri rumahan ikan asin dipastikan lesu.

 

Soalnya, proses pengeringan ikan membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal ikan harus dijemur dalam kurun waktu dua hari.

 

Seperti yang dialami oleh produsen ikan asin rumahan di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

 

Apabila cuaca terik atau bersahabat, ikan asin berbagai jenis akan kering dalam waktu dua hari, sehingga bisa segera dijual ke konsumen.

 

“Kalau sekarang, bisa perlu menjemur ikan selama seminggu agar ikannya kering,” kata Imam (47) salah seorang produsen ikan asin di wilayah Tarumajaya pada Senin (26/12/2016).

 

Imam mengatakan, dua bulan lalu dia mampu memproduksi ikan asin sebanyak 4 kwintal atau 400 kilogram dalam dua hari.

 

Tapi, sekarang, penjualannya turun hingga 40 persen sebab proses pengeringan ikan tertunda akibat cuaca hujan.

 

“Bahkan, pernah saya tidak jemur ikan seharian, karena hujan mengguyur rumah selama satu hari penuh,” ujarnya.

 

Senada diungkapkan oleh Yanto (51) produsen ikan asin lainnya. Yanto mengaku, pendapatannya turun hingga 50 persen akibat cuaca hujan yang mengguyur wilayah setempat.

 

Dalam dua hari, setidaknya dia mampu menjual 4 kwintal ikan asin berbagai jenis yang dihargai Rp 6 juta. Untuk satu kilogram ikan, dijual sebesar Rp 15.000 ke pasar di dekat lingkungannya. Karena cuaca buruk itulah, maka pendapatan dia saat ini menjadi Rp 3 jutaan dalam dua hari.

 

“Itu pendapatan kotor, karena belum dipotong biaya beli ikannya dari nelayan sekitar Rp 5.000 hingga Rp 8.000 per kilogram (kg),” kata Yanto.

 

Yanto berharap, agar Pemerintah Kabupaten Bekasi turun tangan untuk menyelesaikan persoalan ini.

Sebab, industri rumahan ikan asin di wilayah setempat sudah menjadi mata pencarian tetap warga sekitar.

 

Bahkan dengan adanya sentra tersebut, setidaknya ada belasan buruh yang dipekerjakan oleh produsen pelaku usaha ikan asin rumahan.

 

“Harapan kami, agar pemda membantu pelaku industri rumahan untuk memperoleh alat pengering ikan asin, misalnya dengan sistem kredit. Karena harganya cukup mahal bisa belasan atau mungkin puluhan juta rupiah,” katanya.

 

Sumber:

http://www.bekasiurbancity.com/cuaca-tak-menentu-produsen-ikan-asin-di-bekasi-kian-lesu/

Pos ini dipublikasikan di Lingkungan, Sosial dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s